Halaman

Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2012

Mati Suri,Erna Warga Pemangkat Hidup Islami



 

Pengalaman spiritual Erna binti Ali Nafiah patut jadi pembelajaran beharga. Kejadian mati suri (mati lalu hidup kembali) sepuluh bulan lalu, membuatnya berubah. Dua belas tahun tak pernah salat dan mengaji Al-Quran, kini hidup Islami, kesehariannya hanya mengaji dan Al-quran serta mendakwahkan Islam.

MALAM itu, Sabtu (25/8), di Lapangan Tenis Dusun Tanjung Batu Desa Harapan, Pemangkat dipadati warga. Mereka menggelar halal bihalal di malam ketujuh Syawal 1433 H. Selain bersalaman-salaman untuk bermaafan di bulan kemenangan serta meningkatkan silarurahmi, acara tersebut terasa khidmat dan menarik perhatian warga akan kehadiran sosok Erna, warga Perum Badak Putih Desa Harapan, Pemangkat.

Sabtu, 28 Juli 2012

Aki : Makan dan Tidur di Sini


Sore ini 27 Juli 2012, episode penyaluran makanan untuk berbuka kepada para dhuafa dilakukan di dusun Sandayan, Desa Sebayan kecamatan Sambas. Kesempatan ini setidaknya memperbanyak silaturahim mengunjungi saudara se-Iman, juga sekaligus menjalankan amanah rekan – rekan dermawan. Alhamdulillah senang rasanya bisa melihat #mereka bingung namun juga senang mendapatkan kunjungan mendadak seperti ini.

Selasa, 17 Juli 2012

Sejarah Singkat Perpindahan Ibukota Kab. Sambas



 

Perpindahan Ibukota Kabupaten Sambas dari kota Singkawang ke Kota Sambas merupakan kegiatan yang monumental dari seluruh rangkaian kegiatan proses pemekaran wilayah Kabupaten Sambas yang secara formal diusulkan kepada Pemerintah Pusat pada Tahun 1997.
Perjuangan pemindahan Ibukota Kabupaten Sambas dimaksud melalui proses yang panjang yang dimulai dengan adanya aspirasi dan desakan masyarakat Sambas yang menginginkan Ibukota Kabupaten Sambas dikembalikan ke Kota Sambas setelah secara formal dipindahkan ke Kota Singkawang dengan Surat Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor : Dbs.52/2/36-33 tanggal 1 April 1963.

Sabtu, 14 Juli 2012

Poltesa, Politeknik Ke-14 di Indonesia

Upaya memajukan pendidikan di Kabupaten Sambas terus digalakkan. Saat ini ada tiga perguruan tinggi di Kabupaten Sambas. Selain STAIS dan LPDI, Politeknik Terpikat Sambas (Poltesa) telah ditetapkan sebagai politeknik ke-14.
“Ini kebanggaan kita (Sambas, red), Poltesa jadi politeknik ke-14 yang ada di Indonesia,” ungkap Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH saat peringatan Dies Natalis Poltesa ke-4, beberapa waktu lalu.

Rabu, 04 Juli 2012

Tradisi Sya'ban di Kabupaten Sambas

Bulan sya’ban sudah tiba, artinya hanya sekitar kurang dari sebulan lagi umat muslim akan kedatangan tamu istimewa, Bulan Ramadhan. Bulan yang penuh rahmat dan barokah. Semoga kita disampaikan ke Ramadhan kali ini hingga selesai dan diberikan kekuatan untuk bisa mengisinya dengan amalan terbaik kita, amin.
Bulan Sya’ban  memiliki banyak keutamaan dibandingkan bulan-bulan yang lain,oleh karena itu, banyak umat muslim yang mengisinya dengan berbagai kegiatan

Senin, 04 Juni 2012

TAMBANG EMAS CEMARI SUNGAI SAMBAS


Ketergantungan warga Sambas pada air Sungai Sambas untuk mandi, cuci, dan minum tidak bisa dijamin lagi karena terancam oleh kandungan merkuri dari limbah pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang sudah berlangsung lama.
“Sebelumnya, beberapa tahun lalu jika air sungai surut seperti kopi susu dan akan kembali bening (jernih, red) jika air sudah pasang. Tetapi sekarang, pasang-surut air tetap keruh,” tutur Dedi Supriadi, warga yang bermukim di tepi Sungai Sambas, Sabtu (2/6).

Jumat, 01 Juni 2012

SUNGAI SAMBAS KIAN MEMPRIHATINKAN

Sungguh sangat menyedihkan, apabila melihat kondisi air sungai Sambas saat ini. Tak berlebihan apabila kami menyebutnya seperti "air kopi susu" dengan warna keruh kehitam-hitaman. Saban hari semakin parah, ditambah lagi dengan musim kemarau seperti sekarang ini. Apa sebenarnya yang terjadi di hulu sungai? Itu yang menjadi pertanyaan sebagian besar warga yang berada di bantaran sungai Sambas, yang setiap hari menggunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan lain sebagainya. 

Rabu, 30 Mei 2012

UPAYA DAN DILEMA PELESTARIAN PENYU PALOH

Upaya menahan ancaman kepunahan penyu di Pantai Paloh, Sambas tidak mudah. Siapa saja yang melakukan upaya pelestarian satwa itu akan berbenturan dengan penjarah. Kurang lagi ancaman dan intimidasi, surat kaleng pun sering diterima.HENDY ERWINDI, Paloh, Sambas
Hanya suara ombak yang jelas terdengar di Tanjung Api, Pantai Paloh Sabtu (26/5) tengah malam. Dari kejauhan suara ranting yang patah diikuti hamburan pasir terdengar pelan. Ketika didekati baru suara itu kian jelas di telinga. Dari arah suara hingga batas ombak di pantai ada jejak seperti rel kereta api, lebarnya sekitar setengah meter. “Itu jejak penyu. Dari suaranya dia (penyu) tengah membersihkan lokasi bertelur. Masih dua jam lagi baru mulai bertelur,” kata Koordinator Site Paloh WW Indonesia, Dwi Suprapti.

Perkiraan Dwi tidak jauh meleset, setelah dua jam suara hamburan pasir yang bertemu dengan dedaunan kering itu tidak terdengar lagi. Kembali suara ombak yang terdengar di pantai tersebut. Setelah didekati, benar saja seekor penyu hijau (chelonia mydas) yang panjangnya 100 centimeter dengan lebar 94 centimeter tengah mengeluarkan telurnya.
Satu persatu telur sebesar bola ping pong jatuh ke lobang yang telah digali penyu itu. “Usianya ini dipastikan lebih dari 30 tahun,” jelas Dwi. “Setelah bertelur ada jeda sekitar satu jam lagi baru dia kembali ke laut. Setiap selesai bertelur penyu akan berputar-putar membuat jejak dan lubang kamuflase. Tujuannya untuk mengelabui predator dan mungkin juga penjarah,” tambahnya.
Tiga tahun melakukan pemetaan, penelitian dan kampanye tentang pelestarian penyu di Paloh membuat Dwi kenal dengan tingkah laku satwa itu. Namun pengalamannya tidak hanya dengan penyu tetapi juga lingkungan sekitar termasuk penjarah. Dua bulan lalu misalnya, Dwi didatangi enam orang yang memintanya meninggalkan Paloh. Jika tidak mau meninggalkan Paloh mereka akan memaksa dokter hewan lulusan Universitas Udayana itu pergi. “Mereka datang ke kantor dengan nada bicara tinggi,” ucap Dwi bercerita.
Selain ancaman langsung, Dwi juga pernah menerima surat kaleng, bahkan empat kali. Anehnya surat tanpa nama dan alamat pengirim itu tidak dikirim ke tempatnya bertugas di Paloh. Tetapi di kediaman orang tuanya di Singkawang dan di rumahnya di Pontianak.
Terakhir sekitar tiga bulan lalu surat kaleng itu disampaikan petugas pos di rumah orang tuanya di Singkawang. Memang tidak ada kata-kata ancaman dalam surat itu, tetapi Dwi mengaku cukup terusik. “Seorang perempuan, dokter hewan mengapa berani ke Paloh hanya untuk melestarikan penyu. Kira-kira seperti itu bunyi surat yang terakhir,” katanya menirukan isi surat tersebut.
 

Surat kaleng tersebut cukup membuat Dwi berpikir. Yang dipikirkannya, pengirim tahu dua alamatnya di tempat berbeda, di Singkawang dan Pontianak. Mengapa tidak dikirim saja alamat kantornya di Paloh ? “Walau terusik tapi saya tidak ingin menguras pikiran hanya untuk surat kaleng itu,” tuturnya. Dwi menegaskan keberadaannya di Paloh hanya untuk penelitian, pemetaan dan konservasi penyu. Namun penjarah dan sebagian warga menganggap dia dan WWF melarang mengambil telur penyu.
Masyarakat tidak tahu yang sesungguhnya melarang perdagangan telur penyu adalah pemerintah dengan peraturan perundang-undangan. “Kami tidak memiliki kewenangan menangkap apalagi menindak pelaku pencurian telur penyu. Itu wewenang aparat keamanan dengan dasar Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,” jelasnya.
Kapolsek Paloh AKP Laelan Sukur mengatakan, belum pernah ada laporan tentang pencurian telur penyu di wilayah kerjanya. Setiap pelanggaran seperti pencurian telur penyu, kata dia, harus ada pembuktian untuk penindakan lebih lanjut. “Kalau pencuri tertangkap tangan oleh masyarakat harus dibuktikan dulu baru bisa ditindak,” ujarnya.
 

Menurut Laelan, saat ini semakin banyak masyarakat yang tahu tentang larangan pencurian dan perdagangan telur penyu. Apalagi sudah ada kelompok masyarakat yang mengawasi serta turut melestarikan satwa itu. “Masyarakat sudah bagus, WWF juga sudah menyosialisasikan aturan dan keberadaannya di Paloh,” ungkapnya.
 

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sambas Sukari mengatakan, pelestarian telur penyu sebetulnya dapat disinergiskan dengan pariwisata. Sektor itu akan menjadi penghasilan alternatif jika alasan sebagian warga mencuri telur penyu selama ini karena ekonomi

Selasa, 22 Mei 2012

RAJA-RAJA YANG PERNAH MEMIMPIN KERAJAAN SAMBAS


Raja-raja yang pernah menduduki tahta Kerajaan Sambas di bagi menjadi 2 jaman, yaitu :
1. Jaman Hindu, beribukota di Kota Lama.
2. Jaman Islam, beribukota di Muara Ulakan.

Adapun Raja-raja yang berkuasa pada jaman Hindu antara lain
1. Raja Sepudak.
2. Pangeran Prabu Kencana,bergelar Ratu Anom Kusuma Yuda
3. Raden Bekut, bergelar Penembahan Kota Balai.
4. Raden Mas Dungun

Senin, 14 Mei 2012

USIA SAMBAS SUDAH EMPAT ABAD

Usia Sambas pada 9 Juli mendatang diperkirakan lebih kurang empat abad.
Itu terungkap pada sarasehan: Menapak Sejarah Sambas Menghunjam Patok Hari Jadi Kota Sambas, di aula Kantor Bupati Sambas, Rabu (9/5). Kegiatan sehari itu menghadirkan narasumber Urai Riza Fahmi, S. Pd, Abdul Muin Ikram, dan H Arfan. S.
"Tidak diragukan lagi, usia sepanjang itu merupakan masa yang kokoh dalam menanamkan suatu kebudayaan besar sebagai warisan yang tak ternilai harganya dan merupakan situs yang monumental untuk

BATU RAKSASA DITEMUKAN TEAM EKSPEDISI KATULISTIWA

     
       Tim Peneliti Ekspedisi Khatulistiwa Sub Korwil-1 Sambas beserta Tim Geologi dan Potensi Bencana menemukan batu raksasa berbentuk mangkok di sekitar Tanjung Datu,Desa Temajok, Kecamatan Paloh,Kabupaten Sambas. Batu yang mirip dengan mangkok ini panjang lebih kurang 30 meter dan tinggi 15 meter. Batu ini terbentuk karena hasil pengendapan selama ribuan tahun.

Jumat, 11 Mei 2012

SEJARAH KERAJAAN SAMBAS


     Berkunjung ke kabupaten Sambas sepertinya tidak akan berarti apa-apa bila belum mampir ke Istana Alwatzikhoebillah yang menjadi tempat tinggal bagi para keturunan Kesultanan Sambas. Untuk mendapatinya adalah hal yang sangat mudah, mengingat seluruh masyarakat Sambas mengetahui dengan pasti posisi istana tersebut. Posisinya sendiri terletak di desa Dalam Kaum, kecamatan Sambas, kabupaten Sambas. Mereka yang berasal dari Pontianak dapat menggunakan transportasi darat seperti bus atau mobil selama lima jam untuk mencapai daerah ini.